Analisis Dua Puisi Bertema Bangkit dari Pandemi

PENDAHULUAN

Sastra atau Kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia atau kemanusiaan (Mursal Esten). Jika ditinjau dari segi kata, sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yaitu akar kata “Sas dalam kata kerja turunan berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau instruksi. Akhiran –tra biasanya menunjukan alat, sarana. Oleh karena itu, sastra dapat berupa alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran (Teeuw, 2013: 20). Menurut Wellek dan Warren (2014: 3), sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni. Sumardjo & Saini (1997: 3-4) menyatakan bahwa sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa. Puisi, prosa, cerita pendek, roman adalah beberapa jenis karya sastra. 

 

Menurut Waluyo (dalam Dani, 2013:9) puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi rima dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif). H.B. Jassin mendefinisikan puisi adalah sebuah pengucapkan yang melibatkan perasaan di dalamnya yang mengandung suatu pikiran dan tanggapan.

 

Selama pandemi Covid-19 menyerang dunia, berbagai aktivitas dilakukan di dalam rumah. Ketakutan, rasa bosan, penat ditahan agar dapat melindungi diri dan orang yang disayang. Beberapa orang memilih menulis puisi untuk mengisi waktu luang atau mencurahkan apa yang dirasa. Tujuan tulisan ini dibuat adalah untuk menganalisis citraan yang terkandung dari puisi bertema bangkit dari pandemi Covid-19.


ISI

Berikut merupakan dua puisi dengan tema bangkit dari pandemi beserta analisisnya:

 

Bangkit Kreativitas Bangsa

Penulis tidak diketahui


Kini negri tak terbebas dulu

Pandemi terjadi tanpa sepengetahu pribumi

Kami terjerat, pada masa dimana sulit untuk menatap

Penguasa memberi sinyal pada mereka yang tak kuasa menahan lahar

 

Kami menepi

Mengikuti setiap protokol yang tak bisa dihindari

Mencegah setiap penularan yang tak bisa diprediksi 

Begitulah negri ku kini

 

Gebyar semangat bangsa dengan jiwa yang berbeda

New normal bukan meruntuhkan, melainkan menumbuhkan

New normal bukan alasan, untuk kita menjauh dari sebuah kenyataan 

Tumbuhkan jiwa baru dengan sebuah inovasi terkini

 

Gerakan jari, demi kreasi

Lantunkan hati, dengan rasa termotivasi

Negri mu sedang berduka, tak malu kah jika menambah beban dengan kau yang tak tahu apa-apa?

 

Zaman telah berubah

Teknologi telah bertambah

Gadget tak dapat dihindar walau sekedar berganti radar

 

Wahai bangsa negri ini

Pelincahanmu sangatlah di perutukkan

Kegemaranmu banyaklah di sukai orang

Entah membuat karya atau tempat yang sangat dibutuhkan seseorang 

Kau telah memberi kebahagiaan, untuk insan lainnya

Untuk negri ini, berkaryalah... 

Agar dunia tahu

Apa yang kau mau

 

Dari puisi di atas, ditemukan beberapa citraan yang terkandung di dalamnya, yaitu:

• Citraan Gerak

Citraan gerak (kinestetik) menggambarkan sesuatu yang sesungguhnya tidak bergerak, tetapi dilukiskan sebagai dapat bergerak atau gambaran gerak pada umumnya (Pradopo, 2000:87).

Dapat dilihat pada kalimat-kalimat berikut:

Penguasa memberi sinyal pada mereka yang tak kuasa menahan lahar.” 

Tumbuhkan jiwa baru dengan sebuah inovasi terkini.”

Lantunkan hati, dengan rasa termotivasi.”


• Citraan Penglihatan

Citraan penglihatan adalah citraan yang terkait dengan pengonkretan objek yang dapat dilihat oleh mata, objek yang dapat dilihat secara visual (Nurgiyantoro, 2014:279).

Dapat dilihat pada kalimat “Zaman telah berubah.”

 

Menyongsong Tatanan Dunia Baru

Kalau hari ini kita sedang diuji pandemi. Tidak kurang para pendahulu  pejuang RI. Mereka menghadapi ujian yang bertubi-tubi.

Sebuah aneksasi bumi pertiwi yang tidak pernah henti. Bangsa-bangsa penjajah yang terus menghegemoni.

Penderitaan yang tidak bisa diukur yang sangat menyakiti hati. Namun mereka bisa bangkit dan kemudian tegak berdiri. Bahkan menjadi modal besar proklamasi.

Kita bangsa Indonesia dan bahkan seluruh dunia. Sedang menghadapi covid 19 yang mengancam hidup manusia.

Bahkan tidak segan-segan menjadi korban meradang nyawa. Susah tiada tara melawan virus yang ganas luar biasa.

Sewaktu-waktu bisa saja membunuh manusia kapan dan dimana. Tidak peduli ras, suku, bangsa dan juga agama apa.

Sungguh sebuah ketakutan yang tiada bandingnya. Kelaparan akibat pembatasan hidup yang cegah orang bisa kerja. Bahkan seperti ini, seolah-olah tidak ada jalan yang tersisa.

Namun kita harus bangkit dan berusaha sekuat tenaga. Menghadapi cabaran dan kendala hidup dengan penuh upaya dan do'a.

Pilihan hidup tinggal satu tanpa kecuali. Kita harus bangkit dan berupaya tanpa henti. Saling bergandengan tangan dan eratkan jari jemari.

Katakan saja, kita bangsa Indonesia, siap menghadapi. Perubahan tatanan hidup baru sekarang dan pasca pandemi. Dengan merajut tali temali dan menyusun sebuah strategi.

Membangun dunia baru yang lebih bijak dan manusiawi. Bukan lagi sebuah tatanan hidup yang penuh manipulasi. Bahkan hilangkan praktik hidup yang saling menghegomoni.

Mari bangkit bangsaku kembali. Kuatkan tali silaturahimi dan saling menyayangi. Buang jauh rasa saling menista dan saling mengibuli. Dengan niat kuat dan membangun struktur dan budaya yang yang damai".

Malang, 20 Mei 2020

'Abd Al Haris Al Muhasibiy

Dari puisi di atas, ditemukan beberapa citraan yang terkandung di dalamnya, yaitu:

• Citraan Perabaan 

Al-Ma’ruf (2012:83) menjelaskan bahwa citraan perabaan adalah citraan yang ditimbulkan melalui perabaaan.

Terdapat pada kalimat “Saling bergandengan tangan dan eratkan jari jemari.

 

• Citraan Gerak

Terdapat pada kalimat “Mereka menghadapi ujian yang bertubi-tubi.”


KESIMPULAN 

Kedua puisi di atas menggambarkan keadaan dunia, khususnya Indonesia ketika virus Covid-19 datang. Pergerakan manusia menjadi terbatas, ketakutan, rasa panik dirasakan semua manusia. Membandingkan situasi pandemi sekarang dengan perjuangan pahlawan dulu ketika melawan penjajah. Beberapa kalimat berisi seolah memberikan validasi bahwa yang menghadapi pandemi sekarang juga pahlawan masa kini, tentunya yang menaati aturan pemerintah terkait protokol kesehatan. Situasi sekarang, manusia sudah mulai berdampingan virus Covid-19, ini adalah saatnya kita bangkit dan membenahi segala kekacauan yang pernah terjadi. 

 

Masing-masing puisi mengandung dua citraan. Citraan gerak, citraan penglihatan, dan citraan perabaan. 


Komentar